Ilustrasi Istana Arab Saudi. (LEAH MILLIS )

Pemerintah Arab Saudi telah menyatakan secara tegas bahwa mereka tak akan mengikuti Uni Emirat Araab (UEA) yang menjalin normalisasi hubungan secara diplomaatik dengan negara Israel.

Pangeran Faisal bin Farhan, Menteri Luar Negeri Arab Saudi menegaskan bahwa normalisasi hubungan politik antara Saudi dengaan Israel terjadi jika Israel mau menandatangani perjanjian damai dengan Palestina. Perjanjian perdamaian tersebut juga harus sesuai dengan perjanjian internasional.

“Setelah hal tersebut tercapai, semua hal akan menjadi mungkin,” ucap Farhan, seperti dikutip dari AFP, Sabtu (22/8). 

Israel dan UEA pada pekan lalu menjalin sebuah kesepakatan yang mengejutkan. Mereka melakukan kesepakatan damai.

UEA adalah negara Arab ketiga setelah Mesir dan Yordania yang melakukan hubungan diplomatik dengan Israel.

Saudi tetap memilih bungkam hingga saat ini terkait kesepakatan yang dilakukan oleh negara-negara tetangganya tersebut.

Tetapi pejabat lokal memberikan sebuah isyarat, yang seolah mengatakan bahwa Arab Saudi tak akan mengikuti jejak sekutu utamanya di Timur Tengah, walaupun Saudi mendapatkan desakan dari Amerika Serikat.Namun, pejabat lokal telah mengisyaratkan bahwa Arab Saudi tidak mungkin mengikuti jejak sekutu utamanya di kawasan Arab, meskipun ada tekanan dari AS. 

Pangeran Faisal juga sebelumnya mengulangi kritikannya kepada Israel yang secara sepihak merebut dan membangun pemukiman di wilayah Tepi Barat, Palestina yang dianggap sebagai kebijakan yang tidak sah.

Kritikan Pangeran Faisal tersebut telah disampaikan saat konferensi pers dengan Heiko Maas, mitranya dari Jerman.

Kesepakatan tersebut memperoleh protes keras dari Palestina. Palestina menilai tindakan UEA tersebut merupakan sebuah penghianatan yang dilakukan oleh pemain utama di dunia Arab. Menurut warga Palestina, seharusnya normalisasi hubungan dengan Israel hanya akan terjadi jika perselisihan dengan Palestina terselesaikan.

Kesepakatan yang dibuat antara UEA dengan Israel terjadi pada tanggal 14 Agustus kemarin yang ditengahi oleh AS. Salah satu syaratnya yakni Israel harus menghentikan rencananya untuk merebut wilayah Tepi Barat serta tanah-tanah milik warga Palestina.

Kesepakatan UEA-Israel bisa disebut sebagai keberhasilan Presiden AS, Donald Trump, untuk melakukan perubahan terhadap peta politik di wilayah Timur Tengah. Hal tersebut dinilai juga sebagai salah sau langkah guna membendung pengaruh Iran yang mencari simpati dari negara Arab yang ada di wilayah Timur Tengah dengan menggaungkan dukungannya untuk kemerdekaan di Palestina.