Jumat (21/8) AS mengumumkan penangguhannya terhaadap bantuan militer ke Mali pasca para pemberontak berhasil melakukan kudeta dan menangkap Presiden Keita. (MICHELE CATTANI)

Sabtu (22/8), Amerika Serikat (AS) memutuskan bahwa mereka akan menangguhkan bantuan militer ke Mali, pasca Presiden Mali, Ibrahim Boubacar Keita, dikudeta dan ditahan oleh para pemberontak.

“Tak akan ada pelatihan mau pun dukungan lebih lanjut untuk pasukan militer Mali, kami telah menghentikan semuanya hingga kami dapat mendapat kejelasan mengenai situasi saat ini,” ujar J Peter Pham, utusan khusus AS untuk Mali, kepada awak media.

“Masih belum diketahui secara pasti pasukan mana yang terlibat dalam pemberontakan ini, siapa saja yang terlibat secara spesifik dan keberadaan loyalis,” ucapnnya.

Presiden Mali yang telah berusia 75 tahun tersebut berhasil ditangkap oleh para pemberontak pada Selasa (18/8).

Para pemberontak memaksa Keita untuk segera mendeklarasikan pengunduran dirinya dari jabatan sebagai presiden. Dan hingga presiden transisi mengambil alih, maka pihak junta lah yang akan berkuasa menggantikannya.

Pham mengatakan bahwa pemerintah AS merasa sangat prihatin terhadap tindakan kudeta yang dilakukan oleh para jihadis. Kontak pun sudah dilakukan dengan pihak Junta yang menyebut dirinya sebagai Komite Nasional untuk Penyelamatan Rakyat Mali.

“Kontak ini operasional,” ujar Pham. “Mereka (Pemerintah AS) tak menyiratkan pengakuan tetapi sambutan, bahwa saat ini semua orang berada pada suatu tingkatan tertentu serta melakukan pengendalian atas hal-hal tertentu,”

Kata “kudeta” yang mereka gunakan ditolak oleh Pham, ia mengatakan bahwa pengambil alihan tersebut “tidak akan dapat membantu”.

Dalam memerangi kelompok yang dinilai telah bekerjasama dengan Al-Qaeda dan ISIS di wilayah itu, militer Mali telah melakukan kerjasama dengan AS beserta sejumlah negara lainnya.

Pengawasan serta dukungan logistik terhadap pasukan Prancis di Malisaat ini tengah dibantu oleh AS.

Permintaan pemerintah AS untuk para pemberontak diulangi oleh Pham, bahwa mereka ingin Keita segera dibebaskan dengan pertimbangan kesehatan serta usianya.P

“Dia (Keita) adalah presiden yang telah dipilih secara sah,” ujar Pham.