Demonstran anti rasialisme di Prancis. (Foto: AP/Michel Euler)

Valeurs Actuelles, majalah Prancis dengan pembaca kaum ekstrim kanan, telah membuat cerita bergambar Daniele Obono (40), seorang annggota parlemen keturunan Gabon. Gambar tersebut terlihat leher Obono diikat dengan rantai besi, sehingga masyarakat Prancis mengecam tindakan rasialis tersebut.

“Ekstrim kanan – menjijikkan, bodoh, dan kejam. Singkatnya, seperti dirinya sendiri.” tulis Obono di akun Twitter resminya, menanggapi gambar yang sedang viral.

Dalam sebuah pernyataan Kepresidenan Prancis, Emmanuel Macron, Presiden Prancis, telah erkomunikasi melalui telepon dengan Obono, anggota parlemen sayap partai sayap kiri Prancis Unbowed. kemudian ia menyatakan kecaman nyaata terhadap segala bentuk rasialisme.

Di tahun 2019 lalu, Macron sempat memuji Valeurs Actuelles sebagai majalah yang bagus. Selain itu, ia juga mengatakan akan membasmi sikap rasialisme.

Macron juga mengatakan bahwa Prancis tak akan melakukan perobohan terhadap sejumlah patung tokoh besar di era kolonial atau perdagangan budak. Seperti yang dilakukan oleh negara lain baru-baru ini.

Jean Castex, Perdana Menteri, berujar bahwa kejadian ini dianggap sebagai publikasi yang menjijikan serta memicu kecaman yang nyata.

“Saya juga merasa marah atas apa yang terjadi pada anggota parlemen Obono,” ujarnya.

“Setiap orang berhak untuk menulis novel busuk apa pun namun dengan batas-batas yang ditetapkan undang-undang. Yang lainnya bebas untuk membencinya. Saya membenci hal seperti itu (gambar Valeurs Actuelle),” kata Eric Dupond-Moretti, Menteri Kehakiman.

Dengan meningkatnya ujaran kebencian terhadap Obono, Lembaga anti-rasialisme SOS Racisme merasa kecewa. Mereka mengatakan bahwa pihaknya tengah melakukan pertimbangan mengenai hukum yang dapat mengatasi hal semacam ini.

Tetapi, tudingan tersebut dibantah oleh Valeurs Actuelle terkait rasialisme. Menurut mereka, gambar tersebut hanyalah sebuah fiksi dan bukan hal yang menjijikan.

Menurut Wallerand de Saint-Just, salah satu pejabat dari partai sayap kanan Prancis, cerita tersebut memiliki cita rasa yang buruk.

Seperti yang diketahui, Prancis adalah salah satu negara Eropa yang tengah dilanda krisis ketidak adilan secara rasial. Hal tersebut ditandai dengan adanya gerakan Black Lives Matter, yaitu gerakan yang memprotes kematian George Floyd, warga kulit hitam asal AS, pada bulan Juli kemarin di tangan polisi.

Dengan adanya gelombang protes di dunia terkait hal tersebut, maka mereka sepakat untuk merobohkan sejumlah patung tokoh yang terkait dalam sejarah perdagangan budak dan kolonialisme.

Meski pun demikian, Prancis dikenal sebagai negara yang menjunjung tinggi kebebasan untuk berpendapat. Termasuk, pembuatan karya kontroversial seperti karikatur Nabi Muhammad oleh Charlie Hebdo.