Ketua Umum-Eka Santosa pada Kamis, 1 Oktober 2020 menemui Kepala Divisi Regional (Kadivre) Jawa Barat-Banten Perum Perhutani, Dicky Yuana Rady di Kantornya di Jl. Soekarno Hatta 628 Km 14 Bandung (Foto. Ist)

BDGNEWS.BIZ   – Silahkan ditelusur momen kunjungan DPP Gerakan Hejo yang dipimpin Ketua Umum-Eka Santosa pada Kamis, 1 Oktober 2020 menemui Kepala Divisi Regional (Kadivre) Jawa Barat-Banten Perum Perhutani, Dicky Yuana Rady di Kantornya di Jl. Soekarno Hatta 628 Km 14 Bandung, sejatinya ini merupakan kunjungan balasan:

“Dua bulan lalu (26/7/2020 – red) Kang Dicky Yuana beserta rombongan telah berkunjung ke sekertariat DPP  Gerakan Hejo di Alam Santosa, Pasir Impun Kabupaten Bandung. Anggaplah ini kunjungan balasan,” papar Agus Warsito, Sekjen DPP Gerakan Hejo.

Dicky Yuana Rady sendiri di kantornya hari itu didampingi Wakil Kepala Divisi Bidang Kelola SDH, Amas Wijaya, Kepala Departemen Pengelolaan SDH & Perhutanan Sosial, Bambang Juriyanto, Expert Madya Perencanaan & Penanganan Konflik PS, Zuhri Munawar, Expert Madya Pengembangan Perhutanan Sosial, Moh. Drajat, dan Expert Madya Perlindungan SDH, Deden Yogi Nugraha, merespon kehadiran Gerakan Hejo di kantornya:

“Sebagai stimulans dan katalisator demi mempercepat sejumlah program pemerintah provinsi dengan Perhutani. Ini penting, karena unsur masyarakat hadir, ya dari Gerakan Hejo, di antaranya. Kebetulan lagi, visi kita ini sama menangani masalah lingkungan, di antaranya dengan pendekatan budaya. Mudah-mudahan kalau tidak keliru di Jabar dan Banten, kedua masalah ini  yang sudah mulai masuk ke fase krisis. Ini harus kita kembalikan, di antaranya digelar sejumlah program yang lebih sinergis ,” ujarnya.

Lanjutannya menurut Dicky Yuana:”Masih dalam angan-angan nih untuk Perhutani Jawa Barat dan Banten, kami sekarang harus berorientasi kepada non kayu. Yang kita dorong adalah kondisi ketahanan pangan, apalagi dalam suasana pandemi Covid-19 ini. Selanjutnya beralih ke pemberdayaan obyek wisata. Saya impikan kita harus berani head to head dengan Bali,” ujarnya dengan memberikan catatan –  “Tinggal bagaimana daya dukungnya seperti infrastruktur, kesadaran masyarakat, pengembangan produk lokal. Sayangnya, saat ini di generasi milenial kita kesadaran ini agak tertinggal. Lainnya, kita masih sering berwacana saja, kapan kerjanya? Makanya kita ketinggalan oleh Perhutani Jatim dan Jateng.”

Perihal pendalaman orientasi kelembagaan Perhutani Jabar-Banten yang telah dipimpinnya dalam 2 tahun terakhir:“Hutan itu saat ini, tak sekedar penghasil kayu, melainkan bisa menjadi area untuk penyegaran diri, karena keindahan dan kesegaran suasananya. Apalagi, Jabar itu dekat dengan ibukota. Akses transportasinya, sangat mendukung ke banyak obyek wisata. Contoh, ke Kawah Putih (Bandung Selatan), ke Cibungur, dan ke Cikole (Lembang) sudah ada tol, tinggal kita kembangkan.”    

Eka Santosa sendiri kepada redaksi akhirnya merespon esensi topik diskusinya dengan  Ka Divre Jabar-Banten Perum Perhutani, merasa bangga atas visi baru yang dikemukakan lawan bicaranya – yakni, kini berupaya mengurangi eksploitasi hutan.

”Ini mungkin paradigram baru perhutani Jabar Banten, perlu dilanjutkan. Ternyata, kini condong ke fungsi sosial, wisata, dan edukasi. Intinya, hutan itu tak semestinya hanya dieksplotasi seperti dulu dulu itu.”

Masih kata Eka atas hasil paparan bersama tadi, pihak DPP Gerakan Hejo yang didampingi ‘formasi lengkap’, hadir Nurganda, Wakil Ketua Bidang Infomation  & Technology (IT), Dadan Suparlan dan Deni Tudirahayu, Wakil Ketua Bidang Seni dan Budaya serta Kearifan Lokal, Tommy, Wakil Ketua Bidang Kehutanan, Mila Meilani, Wakil Ketua Bidang Ketahanan Pangan, Roni Priatna, Ketua DPD Gerakan Hejo Pangandaran, dan Ira, Ketua DPD Gerakan Hejo Kota Cimahi:

“Terpenting, tadi itu muncul kesepakatan bagaimana menjadikan kembali Jawa Barat sebagai lumbung ketahanan nasional. Wajah baru Perhutani yang punya orientasi baru, jauh lebih berwawasan lingkungan, kami apresiasi,” papar Eka sambi memposisikan  Gerakan Hejo – “Hadir untuk memfasilitasi atau sebagai mitra, maupun menjembatani sejumlah program antara Perhutani dengan masyarakat. Sekaligus mendorong Perhutani sebagai penanggungjawab regulasi kehutanan, ia harus berperan sebagai owner yang punya posisi tawar yang kuat, utamanya dalam penyelamatan lingkungan.” 

Keterangan lain dari pertemuan yang menurut kedua belah pihak dinilai sangat bermanfaat: :”Mungkin dua minggu ke depan akan digelar semacam penandatanganan nota kesepahaman di antara kedua belah pihak. Ini sebagai payung hukum untuk pelaksanaan kerjasama lanjutan di berbagai daerah di Jabar maupun Banten, yang ada kepengurusan Gerakan Hejo,” jelas Amas Wijaya sambil menambahkan –“Tempatnya, bisa saja di Kawasan Alam Santosa, biar lebih segar di alam bebas…”

Balik lagi ke Gerakan Hejo, kata Eka Santosa yang ‘diendus’ dirinya dan tim sedang berkunjung ke Divre Jabar-Banten Perum Perhutani:

”Malah banyak pimpinan daerah inginkan Gerakan Hejo bersama Perhutani, segera mempraktikkan langsung pola kerjasama di lapangan. Sudahlah jangan banyak wacana, kata beberapa pemegang kebijakan di Priangan Timur dan Jabar Selatan, yang memiliki potensi luas dan besar, dalam hal pengembangan berbasis ketahanan pangan,” jelas  Eka yang prihatin – “Kenapa Jabar masih harus impor jagung sebagai bahan utama pakan, padahal potensi untuk memenuhi bahkan ekspor masih sangat memungkinkan. Apa yang salah dengan Jabar?  (Rls. Hny)