Ilustrasi Angkatan Bersenjata Pembebasan Rakyat China. (STR)

Secara resmi China mengumumkan bahwa pihaknya akan melakukan latihan perang pada pekan ini, di Laut China Selatan (LCS). Hal tersebut dipicu dengan memanasnya ketegangan antara China dengan Amerika Serikat (AS).

Badan Keselamatan Maritim China mengatakan bahwa mulai hari Senin sampai Sabtu mendatang, perairan wilayah tenggara Pulau Hainan akan ditutup untuk aktivitas latihan perang, seperti yang dilansir stasiun TV Jepang, NHK, Senin (24/8).

China juga mengatakanmulai Senin hingga tanggal 30 September mendatang, mereka akan mengadakan berbagai jenis latihan terpisah di Laut Bohai dan latihan tembak-menembak yang akan dilaksanakan hari Sabtu sampai Rabu pekan depan, di Laut Kuning.

Untuk latihan tembak-menembak Tentara Pembebasan Rakyat China (PLA), akan dilakukan secara besar-besaran, sepertiyang dilansir dari Philstar Global. Menurut Militer China, latihan tersebut bertujuan untuk persiapan jika sewaktu-waktu terjadi konflik militer dengan pihak AS. Latihan tersebut akan menampilkan latihan pertahanan udara, anti kapal dan anti kapal selam.

Sejak beberapa pekan terakhir, China telah meningkatkan kecepatan latihan perangnya. Alasannya karena AS telah mengirim armada penyerang serta kapal induk sebanyak dua kali di bulan Juli, ke LCS.

China sendiri telah melakukan latihan militer di LCS pada bulan Juli lalu. Mereka melakukan latihan tersebut bertujuan untuk mempertaruhkan klaim mereka untuk kepentingannya di wilayah LCS sembari menjaga pergerakan yang akan dilakukan oleh AS.

Menurut Global Times, surat kabar Pemerintah China, para ahli militer China mempercayai pasukan AS akan terus melakukan peningkatan untuk mengumpulkan data intelijen dari wilayah sekitar medan perang, tempat di mana militer PLA berada. Pasca laporan media Taiwan mengenai pemboman pesawat B-1B, pada tanggal 15 Agustus kemarin AS segera terbang ke wilayah dekat pulau tersebut.

Menurut para ahli, pasukan militer China harus melakukan persiapan untuk menghadapi potensi konflik. Mereka juga berpendapat, kehadiran pesawat tempur AS yang terbilang sering di wilayah Laut China Timur dan Laut China Selatan, akan menimbulkan ketidak pastian serta bahaya diwilayah itu.

Situasi tersebut bukanlah situasi seperti tahun 1995 – 1996 silam, yang menyebabkan krisis Selat Taiwan. Sebab AS dinilai tak memiliki keuntungan di wilayah China tersebut dan pihak AS tak mampu merancang konflik militer besar terhadap China.

Seperti yang diketahui, AS menolak klaim China atas kepemilikan wilayah LCS. AS juga menilai tindakan yang dilakukan China tersebut sebagai bentuk “intimidasi” dan “penindasan” yang dianggap telah melanggar hukum untuk melakukan pengontrolan sumber daya di wilayah LCS.

Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri, meningkatkan sikap konfrontatifnya kepada China, pada bulan Juli kemarin. Ia beranggapan bahwa klaim China atas LCS sepunuhnya telah melanggar hukum. Di sisi lain, AS telah menekan aktivitas yang dilakukan China di wilayah sengketa itu.

Pemerintah AS juga berharap kepada negara lain untuk melakukan koalisi mengingat ancaman besar yang akan ditimbulkan oleh China.