Museum Kariye merupakan Gereja Chora, gereja ortodoks kuno yang pernah digunakan sebagai masjid, kemudian diubah menjadi museum. Ilustrasi. (BULENT KILIC).

Setelah Presiden Turki, Recep Tayyip Erdogan, merubah Hagia Sophia, saat ini giliran Museum Kariye, Istanbul, yang diubah fungsinya menjadi masjid oleh Erdogan.

Awalnya, Museum Kariye sendiri merupakan sebuah gereja yang bernama Gereja Chora yakni gereja orogoks kuno yang dahulunya bangunan ini pernah menjadi masjid. Kemudian dialih fungsikan menjadi sebuah museum.

Namun bangunan ini lebih dikenal sebagai Gereja Chora, yang memiliki arti “negara”. Selain itu, gereja Chora mendapatkan julukan “Holy Savior Outside the Walls” (juru selamat suci yang berada di luar dinding). Julukantersebut memiliki makna bahwa bangunan ini dibangun pertama kalinya di luar dinding Monumental Theodosius II atau Benteng Konstantinopel.

Bangunan ini dibangun pada masa abad pertengahan, semasa Kekaisaran Bizantium atau Romawi Timur. Sehingga Museum Kariye termasuk ke dalam Monumen Bizantium. Seperti ciri khas arsitektur Bizantium, bangunan ini memiliki mozaik dan juga lukisan besar dengan nilai seni yang tinggi.

Sejak abad ke-5, dimana bangunan ini pertamakali didirikan, Museum Kariye telah mengalami perubahan sebanyak lima kali, Namun perubahan yang nampak signifikan terjadi pada abad ke-11, ke-12 dan ke-14. Namun museum ini juga mengalami restorasi secara bertahap di tahun 2013 lalu.

Bangunan ini kini memiliki lima buah arsitektur utama yakni narthex luar, narthex dalam, nave, kapel untuk makam dan paviliun.

mozaik dan lukisan dinding yang terdapaat pada interior bangunan ini ada sejak tahun 1320 silam. Dekorasi tersebut didanai oleh seorang penyair dan sastrawan di bawah Kaisar Andronikos II, Theodore Metochites.

Desain interior tersebut sebagian besar menggambarkan tetnang kehidupan Kristus dan Maria. Pada bagian kubah terdapat lukisan yang menggambarkan silsilah dari Kristus. Pada bagian kubah kiri narthex terdapat mozaik maria dan bayi yesus yang tengah dikelilingi oleh para leluhurnya. Sedangkan pada bagian tengah, terdapat tiga buah mozaik yakni Kristus, maria dan bayi yesus serta Dormition of the Blessed Virgin (Assumption).

Seperti yang dikutip dari Lonely Planet, mozaik paling indah berada di bagian atas pintu ke nave, di bagian naarthex dalam. Mozaik itu menggambarkan persembahan gereja bagi Kristus yang dilakukan oleh Theodore.

Sedangkan pada bagian dinding bangunan, lebih banyak menggambarkan mengenai kematian serta kehidupan setelahnya. Ada lukisan seperti gerbang neraka berada di bawah kaki Kristus. Ada juga lukisan yang menggambarkan Maria dan 12 bidadari.

Di tahun 1453 silam, saat terjadi peristiwa penaklukan Konstantinopel oleh Ottoman, Gereja Chora ini diubah menjadi sebuah masjid dengan nama Kariye Camii (Masjid Kariye). Dikutip dari All About Istanbul, lukisan dan mozaik yang menggambarkan Kristus ditutupi dengan plester. Pada bangunan ini juga ditambahkan mihrab dan menara. Namun pada awal abad ke-20, terjadi gempa bumi yang meruntuhkan menara, kemudiankubah tersebut dibangun kembali.

Pada saat Turki menjadi negara republik, bangunan ini dialih fungsikan menjadi sebuah museum. UNESCO juga telah mengakui bangunan ini sebagai warisan budaya dunia.Lalu,