Ilustrasi bendera as-china dalam konflik. (iStockphoto/Dilok Klaisataporn)

Sebanyak 24 perusahaan asing milik China dan individu yang turut serta dalam aktivitas militer di laut China Selatan (LCS), diberikan sanksi oleh Amerika Serikat (AS).

Menurut catatan departemen Perdagangan AS, ada sekitar 24 perusahaan China yang sudah tercatat dalam daftar hita. China Communications Construction Company (CCCC), anak perusahaan konstruksi, yang berada pada daftar hitam tersebut.

Sanksi berupa pembatasan visa juga telah diberikan terhadap individu oleh Pemerintah AS.

“Sanksi berupa pembatasan visa akan berlaku untuk individu dan badan bisnis yang bertanggung jawab atas, atau terlibat dalam, baik reklamasi skala besar, konstruksi, atau militerisasi pos-pos terdepan yang disengketakan di Laut China Selatan atau terlibat dalam tindakan China terhadap Asia Tenggara untuk menghalangi akses mereka ke sumber daya lepas pantai,” ujar Mike Pompeo, Menteri Luar Negeri, seperti yang dilansir dari South China Morning Post, paada hari Kamis (27/8).

Menurut citra satelit yang telah dianalisis oleh IHS Jane’s, konsultan pertahanan, tahun 2016 lalu, anak peruserusahaan CCCC Dredging, telah melakukan pengoperasian sebagian besar kapal tongkang raaksasa yang digunakan untuk menggali pasir dari dasar laut, kemudian mereka tumpuk di atol terpencil, Laut China Selatan (LCS).

“RRC tak diizinkan untuk menggunakan CCCC dan perusahaan milik negara lainnya sebagai senjata untuk memaksakan agenda ekspansi,” tegas Pompeo.

Sanksi dari AS juga berlaku bagi seluruh anggota keluarga mereka.

Memanaskan perselisihan China – AS terkait LCS yang telah membuka peluang konflik militer. Chian juga sebelumnya telah dilaporkan terkait peluncuran dua jenis rudal, yang salah satunya dapat membunuh kapal induk yang masuk ke wilayah tersebut.

Oriana Skylar Mastro, peneliti di Institut Kajian Internasional Freeman Spogli di Universitas Stanford, turut memberikan respon terkait isu LCS antara AS – China. Menurutnya, perselisihan antar kedua negara tersebut terlihat seperti permainan.

“Saat ini kita seperti sedang bermain ayam-ayaman, di mana AS mempertahankan operasinya di Laut China Selatan sambil mencoba meningkatkan biaya ke China atas posisinya, sementara China memperingatkan Amerika Serikat apabila mereka terus menempuh jalur ini, akibatnya bisa jadi perang,” katanya.

Pemberian sanksi tersebut diumumkan satu hari pasca China mengabarkan ada sebuah pesawat mata-mata U-2 AS yang telah memasuki wilayah terbangnya tanpa izin, pada saat China tengah melakukan latihan militer angkatan laut, di Teluk Bohai, wilayah lepas pantai timur laaut.

Wu Qian, Juru Bicara Kementerian Pertahanan, mengatakan bahwa pesawat AS melakukan penerbangan tanpa izin tersebut, merupakan sebuah aksi provokasi. Qian mengecam hal tersebut dan telah memberikan pernyataan serius terkait isu itu.

“Ini sangat mengganggu aktivitas. Ini secara serius melanggar kode perilaku aman untuk udara dan laut antara China dan AS dan norma internasional. Ini dengan mudah menyebabkan kesalahan penilaian, atau bahkan bisa menyebabkan kecelakaan di laut dan udara,” ujar Qian.